Menempatkan pendidik sebagai pusat dalam pembelajaran AI
Baru-baru ini, saya bertemu dengan dua pengajar di Singapura yang telah mengikuti pelatihan sebagai bagian dari AI Opportunity Fund. Mereka berbagi cerita tentang bagaimana AI mengubah pengalaman di ruang kelas—mulai dari memberikan sarana bagi siswa untuk mempersonalisasi pelajaran, hingga memberikan fleksibilitas waktu lebih bagi para pengajar.
Di School of Science and Technology, Aurelius Yeo, selaku Dean of Educational Technology, menceritakan pengalamannya menggunakan NotebookLM sebagai mitra belajar, membantu siswa memahami materi yang kompleks sekaligus memperdalam pemahaman mereka dengan cara yang paling sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Di sisi lain, Kar Mun Lam, seorang pengajar di Dunman High School, berbagi cerita tentang bagaimana mereka menggunakan Gemini untuk mengotomatisasi tugas administratif yang monoton. Hal ini terbukti mampu menghemat waktu dengan sangat efisien, sehingga pengajar dapat lebih fokus dalam memberikan pendampingan yang lebih bermakna bagi siswa mereka.
Aurelius dan Kar Mun, pengajar di Singapura, berbagi cerita tentang bagaimana mereka memanfaatkan AI di ruang kelas.
Manfaat AI bagi para pengajar dan siswa tampak nyata dalam pertemuan tersebut. Walaupun potensinya untuk meningkatkan kualitas pendidikan sudah jelas, perluasan dampaknya sangat bergantung pada banyaknya jumlah pengajar yang memiliki keterampilan untuk menciptakan efek pengganda (multiplier effect).
Di kawasan Asia-Pasifik, kemahiran menggunakan AI dengan cepat menjadi keterampilan yang dibutuhkan oleh semua orang. Optimisme pun sangat tinggi: riset terbaru menunjukkan bahwa 77% pendidik dan 79% pelajar percaya bahwa AI akan membawa manfaat kepada proses pembelajaran. Meski demikian, masih terdapat kesenjangan yang terjadi dalam pelatihan formal. Para siswa mulai mengadopsi tools ini, namun institusi pendidikan secara aktif meminta kerangka kerja yang memadai agar dapat mengimbangi perkembangan tersebut.
Untuk membantu menjembatani kesenjangan ini, kami menambahkan $10 juta ke Google.org AI Opportunity Fund di Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, untuk mendukung para pengajar, menandai total kontribusi kami yang kini mencapai $37 juta. Sejak diluncurkan pada tahun 2024, dana bantuan yang digunakan untuk mendukung berbagai program peningkatan keterampilan AI di seluruh kawasan Asia-Pasifik, telah melatih lebih dari 500.000 pekerja dan 11.000 usaha kecil. Kini, kami mendukung AVPN (a network of social investors) untuk memperluas dampak tersebut lebih jauh lagi. Ekspansi ini akan membekali 4,7 juta pelajar dan pendidik di 19 negara dengan keterampilan AI yang esensial.
Para peserta saat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Ruang Kolaborasi Perempuan di Indonesia
Memberdayakan pengajar untuk memperluas dampak
Dengan mendukung pendidikan AI di sekolah, universitas, dan lembaga pelatihan, kami ingin membantu siswa mengembangkan pola pikir kritis serta membangun kepercayaan diri dalam menggunakan tools ini, dimana para pengajar bertindak sebagai pusat dari fase pembelajaran ini. Ketika para pengajar diberdayakan untuk memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab, mereka tidak hanya mentransformasi metode pengajaran mereka sendiri, tetapi juga membuka peluang bagi setiap siswa yang mereka bimbing. Kami mendengar hal ini secara langsung dari para pengajar di berbagai wilayah yang telah menyelesaikan pelatihan AI.
Memperluas pendidikan AI untuk semua orang
Untuk membantu membangun generasi yang siap menghadapi AI, program AI Opportunity Fund yang diperluas ini akan menyediakan:
- Jalur pembelajaran terintegrasi: mengintegrasikan sumber daya kelas dunia berbasis riset ke dalam sistem pendidikan lokal, seperti Experience AI, Google Gemini Academy, AI Research Foundations, dan lainnya.
- Buku Panduan AI bagi Pendidik: Memberikan kerangka kerja instruksional kepada guru untuk mengintegrasikan perangkat AI secara aman dan efektif, agar teknologi dapat mengoptimalkan proses belajar, bukan memecah fokus.
- Platform pembelajaran terpusat: sarana untuk memantau progres sekaligus mengotomatisasi proses pendaftaran bagi jutaan pelajar.
- Implementasi lokal dan keterlibatan kebijakan: bekerja sama dengan lebih dari 20 mitra lokal untuk menyelenggarakan pelatihan serta mengadakan pertemuan regional guna menyelaraskan pendidikan AI dengan agenda digital nasional.
Ekspansi ini membangun komitmen jangka panjang Google.org di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia. Selama lima tahun terakhir, Google.org telah mendukung lebih dari 100 organisasi di Asia-Pasifik dengan pendanaan lebih dari $200 juta serta donasi non-tunai senilai $600 juta. Didukung oleh lebih dari 170.000 jam kerja sukarela dari karyawan Google, upaya ini telah membuka peluang bagi lebih dari 60 juta pelajar.
Dengan bekerja sama lintas sektor antara pemerintah, industri, dan masyarakat sipil, kita dapat mencegah kesenjangan AI semakin melebar, serta memastikan manfaat teknologi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, secara inklusif, tanpa memandang titik awal mereka.