Kartini masa kini: Memperluas ruang pembelajaran lewat teknologi
Setiap Hari Kartini, kita kembali diingatkan pada perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan. Namun hari ini, semangat itu hadir dalam bentuk baru: perempuan-perempuan yang menggunakan teknologi, kreativitas, dan empati untuk membuka lebih banyak kesempatan belajar bagi generasi berikutnya.
Di era digital, belajar tidak lagi terbatas di ruang kelas. Dari rumah, layar ponsel, hingga komunitas online, perempuan Indonesia ikut membentuk cara belajar masa kini. Tiga sosok ini menunjukkan bagaimana semangat Kartini terus hidup melalui pendidikan.
Syari Hasniyati: Membawa dunia ke kelas dari Kota Palembang
Di SMA Negeri 1 Sungai Pinang, Sumatera Selatan, Bu Syari menempuh perjalanan hingga dua jam setiap hari demi mengajar. Jarak, keterbatasan fasilitas, hingga akses internet yang tidak selalu stabil tidak menghentikannya untuk memberi pendidikan terbaik bagi murid-murid di daerah.
Baginya, teknologi bukan tujuan, melainkan kendaraan untuk membawa kesempatan yang lebih luas ke ruang kelas. Ia percaya bahwa anak-anak di daerah harus memiliki mimpi sebesar anak-anak di kota besar. Keyakinan itulah yang mendorongnya mulai aktif memanfaatkan teknologi sejak sebelum pandemi. Ketika pembelajaran jarak jauh dimulai, ia sudah lebih siap mengadaptasi metode belajar online untuk siswanya.
Sebagai Leader Google Educator Group Palembang dan Google Certified Trainer, Bu Syari kini tak hanya mengajar di kelas, tetapi juga aktif mendampingi guru-guru lain memanfaatkan teknologi melalui Google Classroom, Google Workspace for Education, dan akun Belajar.id.
Ia dikenal sebagai pionir pemanfaatan Gemini di komunitasnya, dengan melatih ribuan guru menggunakan AI untuk menyusun materi ajar yang lebih kreatif, personal, dan efisien, sekaligus membantu mengurangi beban administrasi. Bu Syari juga bereksperimen menggunakan NotebookLM untuk mengelola literasi guru serta mengubah dokumen panjang menjadi ringkasan interaktif yang lebih mudah dipahami siswa.
Baginya, teknologi bukan untuk menggantikan guru, melainkan memberi guru lebih banyak waktu untuk fokus pada hal terpenting, yaitu hadir bagi murid. Sebagai ibu dari tiga anak, Bu Syari juga menunjukkan bahwa perempuan tetap bisa terus bertumbuh, belajar, dan memberi dampak bagi banyak orang.
Nikita Willy: Membantu orang tua terus belajar
Sebagai ibu sekaligus figur publik, Nikita Willy melihat bahwa banyak orang tua membutuhkan akses pada informasi parenting yang praktis, kredibel, dan relevan dengan tantangan masa kini. Dari situlah ia membangun ruang berbagi edukasi melalui konten podcast di YouTube dengan segmen #momscorner.
Lewat percakapan bersama dokter, psikolog, dan para ahli, Nikita menghadirkan topik-topik seputar tumbuh kembang anak, kesehatan mental, nutrisi, hingga pola asuh modern. Ia menunjukkan bahwa proses belajar tidak berhenti ketika seseorang menjadi orang tua. Sebaliknya, fase tersebut justru membuka babak pembelajaran baru.
Melalui platform digital, Nikita membantu lebih banyak keluarga mendapatkan akses informasi yang sebelumnya mungkin terasa jauh atau sulit dijangkau. Upayanya membuktikan bahwa ketika orang tua terus belajar, anak-anak pun tumbuh di lingkungan yang lebih suportif.
Davina Adinda: dari kamar belajar ke ribuan pelajar Indonesia
Saat pandemi COVID-19, Davina Adinda memulai kanal YouTube sederhana dari rumahnya di Cirebon ketika masih duduk di bangku SMA yang ia beri nama ‘Davina’s Journal’. Awalnya, kanal itu hanyalah ‘study space’ pribadi untuk berbagi cara belajar efektif selama masa sekolah jarak jauh.
Namun, konten tersebut ternyata menemukan banyak penonton yang merasa terbantu. Seiring waktu, kanal Davina berkembang menjadi ruang belajar digital dengan fokus pada study tips, language learning, hingga persiapan SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes). Kini, ia telah menemani perjalanan belajar ribuan pelajar Indonesia selama hampir lima tahun.
Filosofi yang ia pegang sederhana: belajar harus terasa praktis, mudah dipahami, dan ramah untuk pemula. Ia percaya bahwa hal-hal yang terlihat rumit bisa dipecah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dimengerti. Bagi Davina, pendidikan memberi perempuan lebih banyak pilihan, keberanian, dan kebebasan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Dulu, Kartini memperjuangkan agar perempuan bisa belajar. Hari ini, perempuan Indonesia melanjutkan estafet itu dengan membantu lebih banyak orang untuk terus belajar.
Dari ruang podcast, kanal YouTube, hingga membawa teknologi ke kelas di daerah, Nikita Willy, Davina Adinda, dan Bu Syari menunjukkan bahwa pendidikan bisa hadir di mana saja. Dengan teknologi, empati, dan semangat berbagi, mereka menyalakan cahaya baru bagi generasi masa depan.