Langsung ke konten utama
Indonesia Blog

Google News Initiative

Ibu rumah tangga atau pemeriksa fakta? Dua-duanya!



Di tahun 2017, hari-hari Niken Satyawati diisi dengan kegiatan mengurus rumah tangga — mengasuh ketiga putrinya, menyiapkan makanan, dan banyak tugas lain yang menjadi pekerjaan sehari-hari seorang ibu rumah tangga. Namun, di bulan Mei tahun yang sama, Niken berangkat dari kampung halamannya di Surakarta menuju kantor Google di Jakarta guna mengikuti pelatihan yang akan mengajarkannya keterampilan untuk menjadi pemeriksa fakta.  

Niken Satyawati

Niken Satyawati, anggota presidium  Mafindo

“Saya melihat banyak hoaks di internet. Hal itu sangat memengaruhi kehidupan. Persahabatan menjadi rusak, terjadi pertengkaran antar keluarga,” kata Satyawati. "Harus ada yang bertindak untuk mengurangi berita-berita semacam itu."

Niken memutuskan untuk bertindak. Ia bergabung dengan kelompok masyarakat pemeriksa fakta yang berkumpul di forum daring untuk melawan misinformasi. Kelompok ini menamakan diri mereka Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, atau disingkat Mafindo.

Salah satu pendiri Mafindo — Septiaji Eko Nugroho — mulai merekrut sukarelawan untuk mengikuti pelatihan verifikasi ini di Jakarta. Niken pun bergabung dengan rekan-rekannya yang memiliki beragam latar belakang: programmer, jurnalis, pengemudi, dokter, dan ibu rumah tangga, untuk belajar tentang operator pencarian, membalikkan pencarian gambar, video metadata, geolokasi, dan perangkat-perangkat lain yang digunakan oleh pemeriksa fakta profesional.

“Menurut saya ini adalah kesempatan besar untuk dapat mempelajari cara menemukan kebenaran menggunakan perangkat-perangkat yang tidak saya ketahui sebelumnya, dan mendengar tentang perangkat tersebut dari orang-orang yang selalu menggunakannya,” katanya.

Bertahun-tahun kemudian, Mafindo pun semakin berkembang - membangun tim pemeriksa fakta profesional, yang bersama dengan masyarakat pemeriksa fakta telah menyanggah lebih dari 8.550 hoaks. Mafindo telah melatih lebih dari 1.200 relawan seperti Niken, menyelenggarakan festival anti-hoaks dan program literasi media di seluruh negeri, serta menjangkau hampir 1.000.000 orang Indonesia. Untuk menjangkau para ibu rumah tangga, mereka membuat serial web tentang keluarga anti-hoaks untuk mengajarkan pentingnya memeriksa fakta.

Niken Satyawati

Niken bersama suami dan ketiga putrinya berfoto di lereng bukit

“Saya bukan pemeriksa fakta yang profesional penuh waktu, tetapi saya bisa melakukan pemeriksaan fakta sederhana dan sudah terbiasa mendidik masyarakat di tingkat keluarga,” kata Niken.

Tapi kerendahan hatinya tidak dapat memungkiri perannya di Mafindo. Niken duduk di presidium Mafindo, atau dewan pimpinan, dan merupakan tokoh terkemuka organisasi tersebut di Jawa Tengah. Ia mengoordinasi pelatihan bagi pelatih untuk program literasi media, Tular Nalar, yang berhasil menjangkau 1.400 dosen dan 6.000 guru selama dua tahun terakhir, serta mengelola siaran radio mingguan tentang isu-isu anti-hoaks di Surakarta.

Bagi mereka yang tertarik untuk bergabung dengannya dan menjadi sukarelawan pemeriksa fakta, pesannya sederhana, “Setiap pemeriksa fakta harus memiliki komitmen. Komitmen terhadap integritas dan komitmen untuk membuat kehidupan yang lebih baik bagi semua orang dengan mengurangi hoaks di sekitar kita. Memang dibutuhkan keahlian, tetapi itu bisa dipelajari. Dan jangan lupa untuk berbagi keahlian Anda sehingga akan ada lebih banyak pemeriksa fakta di seluruh dunia.”

Dan bagi masyarakat Indonesia yang ingin belajar lebih banyak tentang cara memeriksa fakta — dan menjadi sukarelawan — Mafindo akan menawarkan kesempatan yang lebih besar saat merayakan hari jadinya yang kelima. Akhir tahun lalu, Google.org memberi dukungan kepada Mafindo dan MAARIF Institute berupa hibah sebesar USD800.000 agar kedua organisasi tersebut dapat memperluas jangkauan mereka dan mendapatkan tambahan 26.000 dosen, guru, dan siswa.

Saat kita merayakan Hari Cek Fakta Internasional pada hari Sabtu ini, kita semua dapat mengikuti jejak Niken dengan mempelajari lebih lanjut tentang cara mengidentifikasi misinformasi yang menyebar secara daring. Kami telah membuat lima kiat untuk membantu siapapun agar dapat membaca berita seperti pemeriksa fakta — dan kami berharap dapat mendukung lebih banyak orang seperti Niken dalam melawan misinformasi dan melindungi masyarakat.