Melindungi generasi muda Indonesia di dunia digital
Kami percaya bahwa anak-anak layak mendapatkan ruang untuk belajar, tumbuh, dan bereksplorasi secara aman di dunia daring. Selama lebih dari satu dekade, Google dan YouTube telah berinvestasi dalam berbagai teknologi dan sistem perlindungan yang menjaga keamanan generasi muda di dalam dunia digital, bukan membatasi mereka dari dunia tersebut.
Itulah sebabnya kami selaras dengan tujuan Pemerintah Indonesia dalam PP Tunas, dan mengapresiasi pendekatan penilaian mandiri berbasis risiko (risk-based self-assessment) yang diusungnya. Pendekatan ini memberikan insentif untuk terciptanya fitur perlindungan terintegrasi serta pengalaman digital yang sesuai dengan usia bagi kaum muda, daripada menerapkan pelarangan secara menyeluruh.
Membangun ekosistem digital bagi anak dan keluarga
Selama bertahun-tahun, kami telah membangun berbagai pengalaman digital secara cermat dan bertanggung jawab yang disesuaikan dengan setiap tahapan perkembangan anak. Regulasi yang efektif seharusnya menghargai perbedaan tahapan perkembangan anak dan remaja sesuai usianya dengan memberikan keleluasaan bagi orang tua untuk memilih, daripada langsung menerapkan pelarangan menyeluruh (blanket ban).
Pendekatan ini telah terbukti efektif bagi keluarga di Indonesia: 92% orang tua di Indonesia yang menggunakan fitur pengawasan kami setuju bahwa fitur-fitur ini menghadirkan lingkungan digital yang lebih aman dan terkontrol 1 . Fitur-fitur kami kian menempatkan orang tua di Indonesia sebagai pemegang kendali utama:
- Pengaturan waktu tayangan di YouTube Shorts hingga nol: Fitur baru dan pertama di industri yang memungkinkan orang tua mengatur durasi waktu anak-anak mereka saat menonton atau scrolling YouTube Shorts, hingga menjadi nol.
- Verifikasi usia (age assurance): Kami akan meluncurkan teknologi inferensi usia berbasis AI di Indonesia, jauh sebelum tenggat waktu penerapan PP Tunas pada Maret 2027. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memberikan perlindungan yang tepat untuk remaja secara otomatis.
- Penguncian waktu layar melalui Family Link: Terlepas dari usia anak, orang tua dapat mengatur jadwal "Waktu Sekolah", penguncian layar jarak jauh, pengingat khusus untuk "Istirahat Sejenak" (Take a Break) dan waktu tidur, serta memantau penggunaan aplikasi untuk menetapkan aturan dasar digital yang sehat.
- Perlindungan kesejahteraan digital (digital wellbeing): Khusus untuk pengguna di bawah umur 18 tahun, fitur perlindungan bawaan di YouTube mencakup pengingat “Istirahat Sejenak” (Take a break), penonaktifan notifikasi setelah pukul 22.00, dan penonaktifan fitur Putar Otomatis (Autoplay).
Pembatasan akun secara menyeluruh bagi pengguna di bawah 16 tahun justru akan membuat kaum muda yang mengakses YouTube kehilangan berbagai perlindungan, kontrol orang tua, serta fitur keamanan yang telah kami integrasikan ke dalam akun yang diawasi (supervised accounts).
YouTube sebagai pilar ekosistem pendidikan Indonesia
Dari ruang kelas hingga ruang keluarga, YouTube adalah ruang belajar terbuka terbesar di Indonesia. Platform ini mendemokratisasi akses terhadap pembelajaran dan keterampilan kerja kelas dunia, tanpa terhambat oleh batasan geografis.
Menghapus akun pengguna di bawah 16 tahun secara menyeluruh berisiko menciptakan kesenjangan pengetahuan, serta menghalangi hak siswa di desa-desa terpencil untuk mendapatkan kesetaraan akses dalam belajar yang sama dengan mereka yang berada di kota besar. Mengingat 90% orang tua di Indonesia setuju bahwa YouTube membuat pembelajaran lebih mudah diakses 2 , pembatasan ini dapat menghambat pemerataan pendidikan bagi generasi mendatang.
Ekosistem ini ditenagai oleh para pendidik lokal. Sejak 2020, inisiatif Akademi Edukreator kami telah mendukung para guru-kreator dalam membangun kurikulum digital yang aman dan inklusif. Saat ini, 96% guru di Indonesia yang menggunakan platform kami telah mengintegrasikan konten YouTube ke dalam rencana pembelajaran (RPP) formal mereka 3 .
Dampak dari para 'Edukreator' ini meluas jauh melampaui ruang kelas; mereka menggerakkan ekosistem digital yang menciptakan lapangan kerja dan menyumbang triliunan rupiah bagi PDB Indonesia. Dengan membatasi akses atau menerapkan sistem pembatasan usia (age-gating) pada platform ini, kita berisiko menghambat laju mesin ekonomi yang sangat vital ini.
Mengutamakan kesejahteraan digital daripada sekadar pembatasan
Melindungi generasi muda memerlukan upaya ekosistem yang menyeluruh. Itulah sebabnya kami mempelopori berbagai inisiatif lokal yang membangun ketahanan komunitas dan berlandaskan pada panduan para ahli.
- Memberdayakan garda terdepan pendidikan: Berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kami meluncurkan program percontohan untuk melatih 2.500 guru bimbingan konseling (BK) dalam menghadapi tantangan lokal seperti ketergantungan smartphone serta mendukung kesehatan mental remaja.
- Panduan Ahli bagi Keluarga: Bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan Universitas Indonesia, kami menyusun Buku Panduan Kesejahteraan Digital (Digital Wellbeing Guidebook) untuk memberikan panduan kelas dunia yang relevan secara budaya bagi keluarga di Indonesia.
- Ketahanan Berbasis Komunitas: Melalui program Youth Champions bersama Kemenko PMK, kami akan melatih para advokat muda untuk memimpin dialog keamanan antar teman sebaya (peer-to-peer), guna membangun ketahanan digital secara menyeluruh.
Langkah ke depan
Kami mendorong pemerintah untuk terus melibatkan partisipasi yang bermakna dan transparan dari seluruh sektor industri guna menciptakan kerangka kerja berbasis risiko yang kontekstual. Kerangka kerja seperti inilah yang dibutuhkan agar dapat mengatasi bahaya daring secara nyata, sembari tetap menjaga akses terhadap informasi dan peluang digital bagi masa depan Indonesia.
Seiring dengan langkah Indonesia dalam mengimplementasikan PP Tunas, kami siap untuk berpartisipasi melalui pendekatan penilaian mandiri (self-assessment) sebagaimana diatur dalam regulasi tersebut, guna menunjukkan ketegasan standar keamanan yang telah lama kami jalankan.
Protecting Indonesia's youth in the digital world
We believe kids deserve a place to learn, grow and discover safely online. That’s why for over a decade, Google and YouTube have invested in tools and safeguards that protect young people in the digital world, not from it. We are aligned with the goals of the Indonesian government’s PP Tunas regulation, and appreciate its risk-based self assessment approach which incentivizes built-in protections and age-appropriate experiences for youth, as opposed to a blanket ban.
Building for kids and families
We have spent years thoughtfully and responsibly building distinct experiences tailored to different stages of development. Effective regulation should respect the developmental differences of young people at different ages by empowering parental choice, rather than replacing it with a blanket ban.
This approach is already working for Indonesian families: 92% of local parents using our supervised tools agree these features provide a safer, more controlled environment 4 . Our features continue to put Indonesian parents in the driver's seat:
- Shorts feed timer to zero: A new, industry-first feature allowing parents to set the amount of time their kids spend scrolling Shorts, including to zero.
- Age Assurance: We are rolling out age-inference technology in Indonesia well ahead of the March 2027 PP Tunas implementation deadline to ensure teens receive the right protections automatically.
- Screen time locks on Family Link: Parents can set School time schedules, remote screen-time locks, custom “Take a Break” and bedtime reminders, and monitor app usage to set healthy digital ground rules.
- Safeguards for digital wellbeing: Default protections for users under 18 include “Take a break” reminders, silenced notifications after 10pm, and disabled Autoplay.
Blanket account restrictions for users under 16 would mean that young people accessing YouTube will lose these protections, parental controls, and safety features that we have built into our supervised accounts.
YouTube: A pillar of Indonesia’s learning ecosystem
From classrooms to living rooms, YouTube is Indonesia's largest open classroom. It democratizes access to world-class tutoring and vocational skills, regardless of geography.
Bluntly removing accounts of users under 16 risks creating a knowledge divide, denying students in remote villages the same "front row seat" to learning as those in big cities. With 90% of Indonesian parents agreeing that YouTube makes learning more accessible 5 , these restrictions could undermine educational equity for the next generation.
This ecosystem is powered by local educators. Since 2020, our Akademi Edukreator initiative has supported teacher-creators in building a safe, inclusive digital curriculum. Today, 96% of Indonesian teachers on the platform integrate YouTube content into their formal lesson plans 6 .
The impact of these "Edukreators" extends far beyond the classroom, fueling a digital ecosystem that supports jobs and contributes trillions to Indonesia’s GDP. By restricting or age-gating the platform, we risk stifling this vital economic engine.
Prioritizing wellbeing over restriction
Protecting young people requires a comprehensive ecosystem effort, which is why we have spearheaded several local initiatives that build community resilience and rely on expert guidance.
- Empowering the Frontlines of Education: In collaboration with the Jakarta Provincial Government, we launched a pilot to train 2,500 counseling teachers to address local challenges like smartphone dependency and support teen mental health.
- Expert-Led Resources for Families: Alongside the Indonesian Psychiatric Association, Cipto Mangunkusumo Hospital, and the University of Indonesia, we developed a Digital Wellbeing Guidebook to provide Indonesian families with culturally relevant, world-class guidance.
- Community-Led Resilience: Through our Youth Champions Pilot with Kemenko PMK, we are training young advocates to lead peer-to-peer safety conversations, building digital resilience from the ground up.
The path forward
We would urge the government to maintain meaningful and transparent participation across the whole industry in order to create an effective, contextual risk-based framework that truly addresses online harms while preserving access to information and digital opportunity. As Indonesia implements PP Tunas, we are ready to engage under the regulation's self-assessment approach to demonstrate our long-standing safety rigor.